Rekor-rekor dunia olah raga telah terpecahkan, rekor pelari tercepat, rekor
renang tercepat, rekor lompat tertinggi, bahkan untuk hal-hal yang tidak masuk
dalam cabang olahraga manapun di dunia telah memiliki orang-orang pemegang
rekornya, ada pelahap hamburger terbanyak, ada peminum bir terbanyak, ada
pembuat bakso terbesar, ada pembuat mie terbanyak dan sebagainya. Semua itu
dapat dengan mudah kita dapatkan di Guinnes Book of Record, atau MURI misalnya.
Buku atau lembaga yang mencatat orang-orang super, prestasi-prestasi luar biasa
dan hal-hal yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Ada seorang buta yang ikut dalam audisi penyanyi di sebuah stasiun TV, dan
berhasil masuk dalam nominasi pemenang, karena tekadnya yang begitu besar untuk
membuktikan bahwa dirinya mampu dan menunjukkan bahwa orang-orang lain yang
senasib dengannya juga mampu melakukan hal-hal besar lainnya seperti dia.
Seorang pelari marathon berhasil mengumpukan beragam medali dan piala agar ia di
kenang di negaranya sebagai orang yang berprestasi, agar dapat membanggakan
dirinya di hadapan anak cucu dan orang-orang sekitarnya.

Ada seorang lelaki berhasil ikut dalam ekspedisi pendakian gunung, dia berhasil
sampai di puncaknya, apanya yang luarbiasa?, bukannya biasa saja!, hal yang
menakjubkan bukan semata terletak pada sampainya ia ke puncak, tapi semata
karena ia tidak mempunyai kedua kakinya, subhanallah. Dia yakinkan kepada
dunia dan semua orang bahwa ia tidak boleh berputus asa, dia tidak boleh lemah,
dia tidak boleh berdiam tanpa arti di kamar tanpa aktivitas,…

Ada satu pertanyaan mendasar, untuk apa mereka melakukan hal-hal luar-biasa
tersebut?, jawabannya tentu bermacam-macam seperti yang telah kita bahas tadi.
Goal atau tujuan telah mereka capai, rata-rata mereka telah mendapatkan reward
yang diinginkan, baik berupa uang, medali, penghargaan, atau reward yang
berhubungan dengan non materi seperti aktualisasi diri, kepuasan batin, persaan
luarbisa, kebanggaan, dan berjuta ephoria dalam hati 'sang pemecah rekor'.

Tujuan, goal dan hasil yang berujung pada kepuasan batin karena prestasi yang
telah dicapai, dan penghargaan sejumlah materi yang diterima adalah hal yang
menjadi dorongan yang kuat bagi mayoritas manusia, termasuk saya dan Anda. Kita
terdorong untuk melakukan hal-hal besar agar dikenal manusia mempunyai prestasi,
mempunyai kedudukan status sosial yang tinggi, manusia-manusia hebat, bukan
manusia yang lemah tanpa arti.

Namun jika kita mau sedikit renungkan ternyata hal-hal itu sifatnya hanya
sementara, sehari-duahari, setahun dua tahun. Kita mungkin akan dikenal oleh
manusia karena prestasi yang telah kita lakukan atau rekor yang kita pecahkan,
Applaus dan sambutan hangat kerap kali kita terima ketika orang lain bertemu
dengan kita, tapi sampai berapa lamakah itu semua akan bertahan?. Apalagi jika
ternyata ada oranglain yang mampu lebih baik dari itu atau rekor kita telah
terpecahkan, bukankah di atas langit masih ada langit?

Di balik itu semua itu ada sebuah dorongan yang seharusnya ada dalam hati, yaitu
dorongan terbesar dan terbaik, dorongan itu lain lain adalah bahwa kita
melakukan itu tak lain untuk mengabdikan diri kepada "Sang Pencipta", Allah
subhanahu wata'ala. Boleh kita mempunyai tujuan-tujuan pendek, namun jangan
melupakan tujuan utama melakukannya.

Ketika kita misalnya, mengabdikan diri kepada masyarakat dengan amal-amal usaha
yang membawa kepada perubahan yang baik dalam masyarakat, semata karena ibadah,
mengharap pahala yang besar dari Allah, atau berhasil membuktikan diri sebagai
orang yang berprestasi, mampu melakukan hal luar biasa, itu semua karena ingin
mengabdikan diri kepada Allah.

Dorongan yang baik itu akan sangat terasa manakala upaya yang kita lakukan
tenyata tidak mampu mencapai goal yang sebenarnya, atau ketika upaya kita itu
gagal dan tertunda di tengah jalan. Jadi kita tidak perlu menangis ketika rekor
kita terpecahkan oleh oranglain, kita tidak perlu bersedih manakala orang-orang
tidak menghargai upaya kita, tidak memberikan apresiasi atas prestasi yang telah
kita capai selama ini. Kenapa, karena kita telah memperoleh reward yang pasti
berupa pahala dan sorga.

Kita jadi sadar bahwa tidak semua manusia senang dengan prestasi yang kita
capai, sebagian dari mereka iri, sinis bahkan membenci, karena itulah tabiat
manusia, kita sulit membuat semua orang bahagia dan ikut merasakan kebahagiaan
seperti kebahagiaan kita. Tapi yang pasti selama kita memiliki niatan yang baik
dan cara yang kita tempuh juga tidak melanggar, kika yakin akan memperoleh
ganjaran, bahkan di awal kita melakukan suatu hal, tidak peduli apakah hal itu
mencapai goal yang cantik atau gagal dan tertunda di tengah jalan.

Yang di lihat adalah kerja kita, prosesnya bukan
hasilnya.

I'lamuu, fasayarallahu a'maalakum , Berusahalah, maka
Allah akan melihat hasil kerja kalian,

Orang-orang besar dalam sejarah manusia memiliki niatan yang baik dan tujuan
yang baik dalam setiap aktivitasnya, mereka melakukan semata karena mengabdikan
dirinya kepada Allah.

Kita ingat ketika Nuh 'alahis salam, seorang manusia pilihan Allah, hidup selama
950 tahun, dia berdapah tanpa kenal lelah, sehingga ucapan yang begitu indah
keluar dari mulutnya, ucapan semangat dan penuh keyakinan "Aku berdakwah kepada
kaumku siang dan malam". Berarti ia telah mengerahkan segenap jiwa raganya untuk
menunjuki manusia ke jalan Islam. Dia habiskan seluruh waktunya, total untuk
kaumnya. Tahukah Anda berapa banyak manusia yang ikut dengannya selama itu?
Jumlah mereka tak lebih dari 83 manusia, itupun tidak termasuk anak dan istrinya
yang membangkang dan memilih jalan kesesatan daripada taqwa.

Muhammad Rasululah, bekerja, berdakwah, menyeru umatnya di kota Mekah selama 13
namun hanya sedikit yang mengikuti beliau. Malah ketika ia dihadapkan pada ujian
keyakinan, dan diberi pilihan motivasi dirinya berdakwah, apakah karena harta
dunia, apakah kekuasaan, apakah karena wanita, dengan lantang beliau menjawab,
"Wahai pamanku seandainya mereka mampu meletaknya matahari ditangan kananku dan
rembulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti berdakwah kepada manusia."

Rasulullah memang tidak mendapatkan goal dakwahnya di Mekah, tapi beliau
mencapainya di Madinah, dan jauh sebelum itu beliau telah beroleh pahala dan
sorga. Nuh 'alaihis salam memang hanya mendapatkan 83 orang, plus
binatang-binatang berpasang-pasangan di atas kapalnya, namun ia telah
mendapatkan goal yang sebenaranya, dia mendapat gelar kehormatan dari Allah,
Ulul 'Azmi,
gelar yang hanya dimiliki oleh 5 orang Rasul diantara ribuan
nabi-nabi, dan yang pasti ia mendapatkan sorga.

Jadi pasang niat dan atur kembali untuk apa Anda melakukannya, segera jalankan,
jangan berangan-rangan pada hasil, teruslah berkerja, bekerja dan bekerja, Allah
akan melihat amal usaha kita juga orang-orang yang beriman. Wallahu a'lam
bish shawab, Aminuddin Imam Muhayi, Jakarta, 29 Juli 2007.